Minggu, 30 Juni 2013

Kenangan Ramadhan


 SEMANGAT RAMADHAN DI KALA HAMIL

                               

من فرِح بدخول رمضان حرم الله جسده على النيران
Artinya : “Barang siapa gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka”. (HR. An-Nasa'i).

Ramadhan ibarat sebuah titik kilas balik mengingat kekhilafan, kesalahan dan dosa-dosa masa lalu. 
Di bulan Ramadhan itulah manusia mencoba merefleksikan diri ke masa silam sembari memperbanyak amalan dan ibadah untuk memperbaiki diri. Memperbanyak istighfar, memohon ampun agar terhapus segala dosa dan kembali suci.

Bulan Ramadhan sebagai bulan pensucian diri. 
Segala dosa kita dilebur dan dihapus di bulan Ramadhan untuk kembali menuju fitrah. Dan akhirnya kita kembali menjadi manusia yang bersih dari segala dosa ibarat sebuah bayi yang baru lahir.

Ramadhan adalah sebuah masa ujian kenaikan kelas keimanan kita. 
Keberhasilan kita beribadah di bulan Ramadhan akan menentukan kualitas keimanan kita di hari-hari dan bulan-bulan berikutnya sampai datang Ramadhan berikutnya.

Dengan segala keutamaan ibadah di bulan Ramadhan itulah. Umat muslim berlomba-lomba memanfaatkan datangnya bulan Ramadhan, tidak terkecuali diriku. Semangat menyambut bulan Ramadhan dan memanfaatkan semaksimal mungkin moment datangnya bulan istimewa ini. Mengingatkan saya pada peristiwa yang tak terlupakan..................

Kenangan itu terjadi pada Ramadhan 1430 H bertepatan tahun 2009 M, Saya sedang hamil 7 bulanan kala itu. Karena suami saya aktif di BAI (Badan Amalan Islam) yang salah satu agendanya adalah tarling (tarawih keliling) di seluruh Instansi  se-kota Semarang secara bergiliran selama bulan Ramadhan. Maka hampir setiap hari suamiku pulang malam demi tugas dan kewajibannya tersebut. Bahkan di hari minggu yang seharusnya libur bekerja. Suamiku pun harus berangkat sore karena bertugas dalam acara pengajian menjelang berbuka puasa di Masjid Baiturrahman Semarang berlanjut acara tarawih keliling ke seluruh instansi di kota Semarang. 

Keadaan ini membuat kami tidak pernah menikmati berbuka puasa maupun tarawih bersama di rumah. Karena kondisiku sedang hamil, sehingga aku lebih banyak diam di rumah. Seandainya ikut kegiatan suamiku di acara pengajian, buka puasa bersama atau tarawih kelilingnya pun pasti sangat melelahkan bagi wanita hamil sepertiku. Sehingga suamiku pun tidak mengizinkan aku turut serta. 


Karena semangat saya yang begitu besar di Ramadhan kala itu, maka saya pun tidak mau ketinggalan dan melewatkan bulan Ramadhan yang penuh makna, rahmat dan ampunan ini. Alangkah ruginya jika aku melewatkan kesempatan datangnya Ramadhan yang dinanti oleh seluruh umat Islam ini hanya karena hamil. Sehingga saya pun berusaha untuk tetap bisa melaksanakan ibadah-ibadah Ramadhan semaksimal mungkin.

Kehamilanku yang pertama ini selalu membawa semangat hari-hariku menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Di siang harinya saya melaksanakan ibadah puasa. Dan alhamdulillah, buah hati kami tercinta ini tidak pernah menyulitkanku untuk beribadah di bulan Ramadhan kala di dalam kandungan. Dan sangat jarang rewel, meski ada beberapa hari saya yang bolong tidak puasa. Karena benar-benar nggak kuat untuk mempertahankan puasa. Keadaan seperti ini biasanya jika saya tidak sahur sebelumnya. Karena merasa eneg atau pun tidak berselera yang tidak bisa dipaksa untuk makan.

Meskipun sebagian orang merasa khawatir mengajak janin di kandungan untuk turut serta berpuasa. Tapi...saya sangat yakin bahwa buah hatiku akan baik-baik saja, meski saya ajak berpuasa selama di kandungan....

Beberapa sumber dan riset menyebutkan bahwa ibu hamil yang mengerjakan puasa Ramadhan, dia dan janinnya tidak akan kekurangan gizi. Asalkan dia mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang selama berbuka puasa, sahur dan selama waktu di antara buka dan sahur. 

Puasa Ramadhan pada hakekatnya hanya memindahkan makan pagi, siang dan malam menjadi buka, sahur dan waktu di antaranya. Tubuh manusia dapat mendeposit makanan dan dapat menggunakannya pada saat dia memerlukannya. Jika diet tidak memenuhi kebutuhan sehari, akan terjadi mekanisme keseimbangan secara alamiah. 

Tapi................untuk para ibu hamil, dengan kondisi medis tertentu, mungkin sebaiknya konsultasi dulu ke dokter kali ya.............. Karena setiap kehamilan itu unik, dan pasti memiliki kondisi dan pengalaman yang berbeda bagi setiap wanita.

Alhamdulillah, pengalamanku sangat menyenangkan ketika hamil di bulan Ramadhan. Setiap malam, setelah sholat isya' saya pun ikut berjama'ah tarawih di mushola dekat tempat tinggal kami. Satu minggu pertama, waow.....betapa banyaknya jama'ah sholat tarawih yang datang. Anak-anak pun tidak mau ketinggalan meramaikan sholat tarawih menyambut bulan suci Ramadhan. Sampai serambi mushola tidak mampu lagi menampung para jama'ah. Sehingga harus menyediakan tempat tambahan di halaman masjid bahkan sampai ke jalan. 

Meskipun..............semakin hari semakin berkurang para jama'ah yang ikut tarawih. Namun saya masih tetap bersemangat untuk menjalankan ibadah sholat yang hanya ada di bulan Ramadhan ini. Dengan membawa perut yang cukup besar karena kandunganku sudah berusia 7 bulanan. Saya selalu bersemangat ikut sholat tarawih. Kalaupun saya tidak sholat tarawih di mushola, saya pun sholat tarawih sendiri di rumah. 

Hingga pada suatu malam................................ 
Di sekitar 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Saya ikut berjama'ah sholat tarawih di Mushola. Setelah beberapa raka'at berjalan dengan lancar. Kemudian pada rakaat ke-5 sholat tarawih, tiba-tiba saya merasa agak pening dan keringat dingin mengalir dari sekujur tubuhku. Beberapa kali rasanya mata tidak kuat lagi membuka, dan seakan mulai terasa gelap pandanganku. Mulai gelap..............gelap................ dan hingga akhirnya ........."Mbak, mbak....., bangun mbak". Seorang ibu yang berada di shaf belakangku menggoncang-goncang tubuhku seraya berusaha membangunkanku. Setelah perlahan kubuka mataku..........ibu tersebut menyodorkan sebuah botol yang berisi air putih untuk kuminun. 

Masyaallah......., ibu tersebut menyadarkanku dari pingsan. Seraya kuterima botol minum tersebut dan kuminum beberapa tegukkan, kucoba menyadarkan diri dan mengucapkan terima kasih serta meminta maaf karena telah membatalkan sholat tarawihnya. Betapa tidak, aku pingsan dan jatuh tepat di tempat sujudnya. Tentu kagetlah ibu tersebut, membatalkan sholat tarawihnya dan segera mencoba menyadarkanku. Sedang jama'ah yang lain masih meneruskan sholat tarawih sampai salam.

Setelah sholat tarawih yang ke-6 raka'at selesai salam. Beberapa ibu membantuku menepi dan duduk istirahat disamping shaf. 
Duh....................Malunya waktu itu, menjadi pusat perhatian! Untungnya jama'ah sholat tarawih tidak sebanyak hari-hari di awal Ramadhan. Sehingga seluruh jama'ah sholat tarawih yang hadir waktu itu bisa tertampung di mushola. Beberapa ibu-ibu jadi berempati padaku.....melihat perutku yang membesar ikut tarawih, pingsan lagi.......?!! Hehe

Akhirnya......saya hanya duduk disamping shaf, melihat ibu-ibu yang lain melanjutkan jama'ah sholat tarawih hingga shalat witir selesai...

Setelah saya ingat dan mengingat lagi.....
Ternyata waktu itu saya belum menyantap menu utama berupa nasi pada saat berbuka puasa. Maklum "Perut Indonesia, khususnya jawa nich......", jadi dianggap belum makan, kalau belum makan nasi. Hanya makan beberapa cemilan dan jajanan pembuka saja.  Karena memang pada saat itu, lagi tidak berselera makan.... Meskipun sudah terasa kenyang menyantap makanan pembuka hidangan berbuka, ternyata pingsan juga saat menjalankan ibadah tarawih. Hihi

Nah, jadi bagi ibu-ibu hamil yang ingin berpuasa selama Ramadhan, jangan mengabaikan sahur dan buka puasa tepat waktu ya.... Jangan sampai seperti saya yang mengabaikan berbuka puasa ini. Hingga akhirnya tumbang di tengah melaksanakan tarawih.

Namun..........sungguh sangat beruntung dan bersyukur diriku, atas kasih sayang Allah SWT dengan segala anugerahNya.. Bayi yang ada di dalam kandunganku juga baik-baik saja. Dia terlahir tepat pada tanggal 1 Februari 2010 dalam kondisi yang sehat, lucu dan menggemaskan. Putri cantik yang kami beri nama Rif'ana Husna Aulia, tumbuh menjadi anak yang cerdas dan membanggakan. Dia juga tidak merepotkan ketika diajak turut serta sholat selama ini. Bahkan.............justru dia sering mengingatkan dan mengajak kami, Ayah-Bundanya untuk segera sholat saat memasuki waktu-waktu sholat. Semoga menjadi anak yang sholekhah. Amin.............

Demikian cerita saya mengenai kenangan Ramadhan yang menakjubkan. Semenjak terlahir di dunia ini.....baru kali pertamanya saya merasakan dan mengalami pingsan....... Semoga memberi pelajaran dalam hidup untuk lebih menghargai waktu, tidak mengabaikan pentingnya makan tepat waktu. Di samping itu..............sungguh terasa, Islam itu sangat indah dan toleran. Seperti yang saya rasakan dengan perhatian dan empati para jama'ah sholat tarawih waktu itu.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar